BERITA TERDAHSYAT DAN AKTUAL, KAMI MELAPORKAN SEMUA KEJADIAN DI LAMPUNG DAN SEKITARNYA

Sabtu, 12 Agustus 2017

On Agustus 12, 2017 by bengkel cincin   No comments

Alexandre lacazette pemain Arsenal langsung unjuk gigi dalam laga partai perdana Liga Primer Inggris musim 2017/18 melawan Leicester City di Emirates Stadium, Sabtu (12/8) dini hari WIB.
Debut penyerang Arsenal ini membuka keunggulan cepat The Gunners saat laga baru berjalan 2 menit. Tentukan sticker asal asal Perancis tersebut meluncur deras ke sisi kiri gawang Leicester setelah menerima umpan Mohamed Elneny.
Namun Leicester mampu menyamakan kedudukan tiga menit berselang. rekrutan anyar The Foxes, Harry Maguire menjadi aktor saat umpan akuratnya dimanfaatkan Shinji Okazaki untuk membobol gawang Petr Cech.
Arsenal  yang mendominasi serangan hingga pada pertengahan babak pertama justru kembali kecolongan pada menit ke-29 kecolongan. Jamie Vardy yang tak dapat yang tidak mendapat kawalan ketat dengan nyaman menyambar umpan silang Marc Albrighton.
Sejumlah serangan dilancarkan Arsenal disisa waktu terakhir babak pertama dan upaya mereka baru membuahkan hasil saat memasuki tambahan waktu. Melalui kemelut di muka gawang Leicester, Danny Welbeck tanpa kesulitan menyamakan skor selepas mendapat umpan Sead Kolasinac.
Arsene Wenger menginstruksikan anak asuhnya memaksimalkan serangan di babak kedua. Hanya saja skema serangan balik yang diterapkan Manager Craig Shakespear masih efektif dan beberapa kali memaksa Cech jatuh bangun mengamankan gawangnya.
Cech berhasil dengan gemilang memungut bola dari gawangnya pada menit ke-56 setelah sebelumnya menghalau tembakan keras kaki kanan Riyad Mahrez. Winger asal Aljazair tersebut menginspirasi gol ketiga Leicester setelah sepak pojoknya disambar Vardiyan yang  tidak mendapat kawalan berarti.
Dua pergantian penyerang dilakukan Winner dengan menarik keluar Rob Holding dan Elneny untuk Olivier Giroud dan Aaron Ramsey. Wales menyamakan kedudukan pada menit ke-83 lewat sebuah tembakan kencang kaki kanannya.

sumber dari : www.lampost.co - berita lampung

Jumat, 16 Juni 2017

Salah satu peristiwa penting pada momen bulan suci ramadhan yaitu datangnya malam lailatul qadar. Menurut berbagai riwayat, malam yang digadang-gadang oleh seluruh umat Islam di dunia ini datang pada 10 hari terakhir bulan ramadhan, khususnya di tanggal-tanggal ganjil.

Namun, datangnya malam lailatul qadar tidak seorang pun yang mengetahui tepatnya kapan. Selama ini umat Islam hanya membaca tanda-tanda malam yang menurut Al-Qur’an lebih baik dari 1000 bulan ini. Betapa mulianya malam lailatul qadar karena mampu membawa seorang hamba pada ketakwaan yang hakiki.

Lalu, benarkah pertanda malam lailatul qadar di antaranya membekunya air, heningnya malam, dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya? Yang pasti, dan ini harus diimani oleh setiap muslim berdasarkan pernyataan Al-Qur’an, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar” (QS Al-Qadr: 1) dan malam itu merupakan “malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan kebijaksanaan” (QS Ad-Dukhan: 3).

Ditegaskan dalam Al-Qur’an, malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Ini diisyaratkan oleh adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu “Wa ma adraka ma laylatul qadar.”
Untuk memperoleh pemahaman yang jernih terkait malam lailatul qadar, Muhammad Quraish Shihab (1999) memberikan sejumlah keterangan terkait arti kata qadar. Mufassir kenamaan tersebut memaparkan tiga arti pada kata qadar tersebut.

Pertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan Firman Allah pada Surat Ad-Dukhan ayat 3. Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun. 

Al-Qur’an yang turun pada malam lailatul qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Kedua, qadar berati kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. 

Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 Surat Al-An’am yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idz qalu ma anzala Allahu ‘ala basyarin min syay’i (mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Ketiga, qadar berati sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Qadar: Pada malam itu turun malikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Kata qadar yang berarti sempit digunakan oleh Al-Qur’an antara lain dalam ayat ke-26 Surat Ar-Ra’du: Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya’ wa yaqdiru (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya [bagi yang dikehendakinya]). (Fathoni)

Disarikan dari M. Quraish Shihab dalam buku karyanya ”Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat.” (Mizan, 1999).